Sabtu, 19 May 2012
   
Teks

Pencarian

Toko Buku Online

Amdal Pada Bidang Pertambangan - Decomisioning Dan Penutupan Tambang

Kumpulan Artikel - Sumber Daya Alam

Indeks Artikel
Amdal Pada Bidang Pertambangan
Aspek Lingkungan Dalam AMDAL Bidang Pertambangan
Ruang Lingkup Kegiatan Pertambangan
Decomisioning Dan Penutupan Tambang
Seluruh halaman

C. Decomisioning Dan Penutupan Tambang

Setelah ditambang selama masa tertentu cadangan bijih tambang akan menurun dan tambang harus ditutup karena tidak ekonomis lagi. Karena tidak mempertimbangkan aspek lingkungan, banyak lokasi tambang yang ditelantarkan dan tidak ada usaha untuk rehabilitasi. Pada prinsipnya kawasan atau sumberdaya alam yang dipengaruhi oleh kegiatan pertambangan harus dikembalikan ke kondisi yang aman dan produktif melalui rehabilitasi. Kondisi akhir rehabilitasi dapat diarahkan untuk mencapai kondisi seperti sebelum ditambang atau kondisi lain yang telah disepakati. Namun demikian, uraian di atas tidak menyarankan agar kegiatan rehabilitasi dilakukan setelah tambang selesai. Reklamasi seharusnya merupakan kegiatan yang terus menerus dan berlanjut sepanjang umur pertambangan.

Tujuan jangka pendek rehabilitasi adalah membentuk bentang alam (landscape) yang stabil terhadap erosi. Selain itu rehabilitasi juga bertujuan untuk mengembalikan lokasi tambang ke kondisi yang memungkinkan untuk digunakan sebagai lahan produktif. Bentuk lahan produktif yang akan dicapai menyesuaiakan dengan tataguna lahan pasca tambang. Penentuan tataguna lahan pasca tambang sangat tergantung pada berbagai faktor antara lain potensi ekologis lokasi tambang dan keinginan masyarakat serta pemerintah. Bekas lokasi tambang yang telah direhabilitasi harus dipertahankan agar tetap terintegrasi dengan ekosistem bentang alam sekitarnya.

Teknik rehabilitasi meliputi regarding, reconturing, dan penaman kembali permukaan tanah yang tergradasi, penampungan dan pengelolaan racun dan air asam tambang dengan menggunakan penghalang fisik maupun tumbuhan untuk mencegah erosi atau terbentuknya AAT. Isu-isu yang perlu dipertimbangkan dalam penetapan rencana reklamasi meliputi :

  1. stabilitas jangka panjang, penampungan tailing, kestabilan lereng dan permukaan timbunan
  2. keamanan tambang terbuka, longsoran, pengelolaan B3 dan bahaya radiasi
  3. karakteristik fisik kandungan bahan nutrient dan sifat beracun tailing atau limbah batuan yang dapat berpengaruh terhadap kegiatan revegetasi
  4. potensi terjadinya AAT dari bukaan tambang yang terlantar, pengelolaan tailing dan timbunan limbah batuan (sebagai akibat oksidasi sulfida yang terdapat dalam bijih atau limbah batuan)
  5. potensi timbulnya gas metan dan emisinya dari tambang batubara
  6. biaya untuk rehabilitasi selama kegiatan pertambangan dan pasca tambang

Aspek sosial ekonomi selama tahap decomisioning juga perlu diperhatikan khususnya eksistensi dan daya tahan ekonomi masyarakat setempat yang tergantung pada kegiatan pertambangan. Disamping hilangnya pendapatan, kelanjutan penyediaan fasilitas sosial seperti sarana air bersih, air limbah, listrik dan pelayanan kesehatan menjadi tidak jelas. Fasilitas sosial ini biasanya disediakan langsung oleh industri pertambangan. Dengan selesainya kegiatan pertambangan, perlu diperjelas institusi yang akan mengelolan fasilitas sosial tersebut. Semua isu-isu di atas harus dipertimbangkan dalam penentuan rencana penutupan tambang.

D. Analisis Alternatif

Analisa alternatif tambang pada umumnya sangat dibatasi oleh lokasi zona mineralisasi yang tetap dan tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pasar atas logam mulia dan mineral yang ditambang. Analisis alternatif didalam AMDAL kegiatan pertambangan hendaknya mempertimbangkan :

  1. metode penambangan dan proses yang digunakan
  2. pilihan pengangkutan tailing dan bijih (conveyor, jalan, rel, sistem pipa)
  3. sumber air dan sistim manajemen air
  4. alternatif pengelolaan tailing
  5. lokasi pabrik pengolahan, lokasi penimbunan tailing, lokasi penimbunan limbah, lokasi bangunan base camp, lokasi pemukiman karyawan, sumber energi dan rute akses jalan

E. Aspek Sosial Ekonomi dan Keterlibatan Masyarakat dalam AMDAL

Teknik-teknik yang dipakai untuk pengelolaan dan pengendalian dampak lingkungan oleh kegiatan tailing telah berkembang dengan baik, namun untuk isu-isu yang berkaitan dengan sosial ekonomi masih merupakan tantangan yang belum terselesaikan. Banyak perusahaan pertambangan masih bergulat dengan isu-isu sosial seperti :

  1. Kompensasi kehilangan lahan dan akses sumberdaya alam (seperti: lahan) dan juga potesi kehilangan ekonomis dan gangguan terhadap kehidupan budaya.
  2. Pengelolaan dampak yang berkaitan dengan operasi pertambangan seperti: masuknya pendatang baru yang berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan penda-patan, komsumsi air bersih, dan terjadinya persaingan yang disebabkan pemakaian air bersih dan sumberdaya alam lain yang dipergunakan bersama.
  3. Tuntutan untuk melaksanakan program community development pengembangan kesempatan kerja dan mekanisme untuk mendistribusikan keuntungan sosial secara lebih luas diantara masyarakat lokal.

F. Metode Pengelolaaan Lingkungan

Mengingat besarnya dampak yang disebabkan oleh aktifitas tambang, diperlukan upaya-upaya pengelolaan yang terencana dan terukur. Pengelolaan lingkungan di sektor pertambangan biasanya menganut prinsip Best Management Practice. US EPA ( 1995) merekomendasikan beberapa upaya yang dapat digunakan sebagai upaya pengendalian dampak kegiatan tambang terhadap sumberdaya air, vegetasi dan hewan liar. Beberapa upaya pengendalian tersebut adalah :

  • Menggunakan struktur penahan sedimen untuk meminimalkan jumlah sedimen yang keluar dari lokasi penambangan
  • Mengembangkan rencana sistim pengedalian tumpahan untuk meminimalkan masuknya bahan B3 ke badan air
  • Hindari kegiatan konstruksi selama dalam tahap kritis
  • Mengurangi kemungkinan terjadinya keracunan akibat sianida terhadap burung dan hewan liar dengan menetralisasi sianida di kolam pengendapan tailing atau dengan memasang pagar dan jaring untuk
  • Mencegah hewan liar masuk kedalam kolam pengendapan tailing
  • Minimalisasi penggunaan pagar atau pembatas lainnya yang menghalangi jalur migrasi hewan liar. Jika penggunaan pagar tidak dapat dihindari gunakan terowongan, pintu-pintu, dan jembatan penyeberangan bagi hewan liar.
  • Batasi dampak yang disebabkan oleh frakmentasi habitat minimalisasi jumlah jalan akses dan tutup serta rehabilitasi jalan-jalan yang tidak digunakan lagi.
  • Larangan berburu hewan liar di kawasan tambang.

Sedangkan ringkasan upaya pengelolaan yang direkomendasikan untuk setiap tahapan-tahapan kegiatan dapat dilihat pada tabel 3.

Prodjosumarto (1992) telah mengidentifikasikan beberapa upaya pengelolaan yang lazim digunakan bagi kegiatan pertambangan di Indonesia. Upaya-upaya pengelolaan tersebut diuraikan sebagai berikut:

F.1. Tahap Persiapan Penambangan (Mining Development)

Pembukaan atau pembersihan lahan (land clearing) sebaiknya dilaksanakan secara bertahap, artinya hanya bagian lahan yang akan langsung atau segera ditambang. Setelah penebasan atau pembabatan selesai, maka tanah pucuk (top soil) yang berhumus dan biasanya subur jangan dibuang bersama-sama dengan tanah penutup yang biasanya tidak subur, melainkan harus diselamatkan dengan cara menimbun ditempat yang sama, kemudian ditanami dengan tumbuh-tumbuhan penutup yang sesuai (rumput-rumputan dan semak-semak), sehingga pada saatnya nanti masih dapat dimanfaatkan untuk keperluan reklamasi lahan bekas tambang.

Pada saat mengupas tanah penutup (striping of overburden) jalan-jalan angkut yang dilalui alat-alat angkut akan berdebu, oleh sebab itu perlu disiram air secara berkala. Bila keadaan lapangan memungkinkan, hasil pengupasan tanah penutup jangan diibuang kearah lembah-lembah yang curam, karena hal ini akan memperbesar erodibilitas lahan yang berarti akan menambah jumlah tanah yang akan terbawa air sebagai lumpur dan menurunkan kemantapan lereng (slope stability). Bila tumpukan tanah tersebut berada ditempat penimbunan yang relatif datar, maka tumpukan itu harus diusahakan berbentuk jenjang- jenjang (benches) dengan kemiringan keseluruhan (overall bench slope) yang landai. Disamping itu cara pengupasan tanah penutup sebaiknya memakai metoda nisbah pengupasan yang konstan (constant stripping ratio method) atau metoda nisbah pengupasan yang semakin besar (increasing stripping ratio method) sehingga luas lahan yang terkupas tidak sekaligus besar.

Upaya Pengelolaan Limbah Tambang

a) Tipe limbah ekstraksi lokasi kerja tamban

Upaya pengelolaan:

  • Evaporasi dan penggunaan kembali air tambang untuk kegiatan prosesing
  • Penggunaan alat pengendali aliran permukaan seperti gorong-gorong dan saluran air
  • Netralisasi atau pengendapan atau cara pengolahan lain sebelum dibuang kebadan air
  • Pembersihan sisa-sisa peledakan
  • Menyiapkan sistem pengelolaan air tambang pada tahap pasca tambang
  • Pemantauan kualitas air buangan dan air permukaan
  • Membangun unit penampung air tambang untuk meminimalkan potensi pencemaran air permukaan

b) Tipe limbah Ekstraksi batuan penutup dan batuan limbah

Upaya pengelolaan:

  1. Penimbunan kembali menggunakan teknik tambang back fill dengan menggunakan batuan limbah ke tambang yang sudah digunakan
  2. Maksimalkan penggunaan batuan penutup untuk reklamasi
  3. Mengumpulkan dan memonitor rembesan drainase dan aliran permukaan
  4. Memisahkan dan menutup batuan limbah yang reaktif dengan bahan yang tidak reaktif untuk mencegah terbentuknya air asam tambang
  5. Menggunakan batuan limbah yang tidak reaktif untuk keperluan kontruksi
  6. Menyediakan sistem drainase timbunan yang cukup untuk meminimalkan potensi keruntuhan lereng.
  7. Melakukan pemantauan air permukaan untuk memperoleh data base line dan melanjutkan kegiatan pemantauan selama kegiatan operasi dan pasca tambang
  8. Menggunakan sistem pengendalian drainase untuk meminimalkan terjadinya infiltrasi

c) Proses pengolahan pengendapan tailing

Upaya pengelolaan:

  • Mendisain tempat penampungan tailing dengan memperhatikan kondisi curah hujan maksimum
  • Pertimbangkan penggunaan lapisan alamiah/sintetik pada saluran drainase
  • Memaksimalkan penggunaan kembali air dari tailing
  • Membatasi penggunaan bahan-bahan kimia untuk proses pengolohan hanya sebatas yang diperlukan
  • Menyediakan saluran drainase yang cukup
  • Membangun saluran untuk menjaga pecahnya jalur-jalur perpipaan
  • Melakukan test ARD secara terus menerus sepanjang masa operasi dari penutupan tambang
  • Mengumpulkan rembesan pada lereng terluar dari kolam pengendapan tailing

Sumber : US-EPA/310-R-95-008 EPA

F.2. Tahap Penambangan

Untuk metoda penambangan bawah tanah (underground mining) dampak negatifnya terhadap lingkungan hidup agak terbatas. Yang perlu diperhatikan dan diwaspadai adalah dampak pembuangan batuan samping (country rock/waste) dan air berlumpur hasil penirisan tambang (mine drainage). Kecuali untuk metode ambrukan (caving method) yang dapat merusak bentang alam (landscape) atau morfologi, karena terjadinya amblesan (surface subsidence). Metoda penambangan bawah tanah yang dapat mengurangi timbulnya gas-gas beracun dan berbahaya adalah penambangan dengan “auger” (auger mining), karena untuk pemberaiannya (loosening) tidak memakai bahan peledak.

Untuk menekan terhamburnya debu ke udara, maka harus dilakukan penyiraman secara teratur disepanjang jalan angkut, tempat-tempat pemuatan, penimbunan dan peremukan (crushing). bahkan disetiap tempat perpindahan (transfer point) dan peremukan sebaiknya diberi bangunan penutup serta unit pengisap debu

Untuk menghindari timbulnya getaran (ground vibration) dan lemparan batu (fly rock) yang berlebihan sebaiknya diterapkan cara-cara peledakan yang benar, misalnya dengan menggunakan detonator tunda (millisecond delay detonator) dan peledakan geometri (blasting geometry) yang tepat.

Lumpur dari penirisan tambang tidak boleh langsung dibuang ke badan air (sungai, danau atau laut), tetapi harus ditampung lebih dahulu di dalam kolam-kolam pengendapan (settling pond) atau unit pengolahan limbah (treatment plant) terutama sekali bila badan air bebas itu dipakai untuk keperluan domestik oleh penduduk yang bermukim disekitarnya

Segera melaksanakan cara-cara reklamasi/ rehabilitasi/restorasi yang baik terhadap lahan-lahan bekas penambangan. Misalnya dengan meratakan daerah-daerah penimbunan tanah penutup atau bekas penambangan yang telah ditimbun kembali (back filled areas) kemudian ditanami vegetasi penutup (ground cover vegetation) yang nantinya dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi lahan pertanian atau perkebunan. Sedangkan cekungan-cekungan bekas penambangan yang berubah menjadi genangan-genangan air atau kolam-kolam besar sebaiknya dapat diupayakan agar dapat dikembangkan pula menjadi tempat budi-daya ikan atau tempat rekreasi.



Sedang Online

Kami punya 32 tamu online

Log Masuk

Pencatat Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini290
mod_vvisit_counterKemarin1459
mod_vvisit_counterMinggu ini7773
mod_vvisit_counterBulan ini27772
mod_vvisit_counterTotal sejak 10-01-2010935535

Ideelok di Facebook

Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com

Nonton TV Online

Anda dapat nonton TV Online Live Streaming (TV One, Tranc TV, Indosiar, Trans 7, AN TV, DAAI TV, dan Spacetoon) dengan Klik ini NONTON TV ONLINE.

Auto Submit Iklan Anda

Pasang iklan barang/produk Anda pada 1.320 lebih website iklan baris secara otomatis dengan Software Autosubmit.

Sumber Daya Alam

Amdal Pada Bidang Pertambangan

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel A. Apa yang dimaksud dengan AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) AMDAL merupakan kajian dampak besar... [Selanjutnya...]

Pemanasan Global (Global Warming) dan...

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel Pemanasan Global (Global Warming) merupakan isu yang semakin sering didengungkan oleh berbagai pihak... [Selanjutnya...]

Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike

Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike merupakan salah satu hutan hujan tropis di Sumatera Utara. TWA... [Selanjutnya...]

Katak Terkecil di Dunia Microhyla nepenthicola

Katak Terkecil di Dunia Microhyla...

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel Microhyla nepenthicola ditemukan di dekat Gunung Serapi, di dalam Kubah, Taman Nasional Kalimantan tahun... [Selanjutnya...]

Taksonomi dan Klasifikasi Organisme

Taksonomi dan Klasifikasi Organisme

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel Istilah taksonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu taxis yang berarti susunan dan nomos yang berarti hukum.... [Selanjutnya...]

Identifikasi Satwa Secara Tidak Langsung

Identifikasi Satwa Secara Tidak Langsung

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel Identifikasi satwa dimaksudkan sebagai upaya untuk mengenal jenis, keadaan umum status populasi dan tempat... [Selanjutnya...]

Pengertian dan Ruang Lingkup Kajian Dinamika Populasi Satwa

Pengertian dan Ruang Lingkup Kajian...

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel A. Pengertian Dinamika populasi merupakan suatu ilmu yang mempelajari mengenai perubahan-perubahan yang... [Selanjutnya...]

Parameter Populasi Satwa Liar

Parameter Populasi Satwa Liar

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel Populasi merupakan sehimpunan individu atau kelompok individu suatu jenis makhluk hidup yang tergolong dalam... [Selanjutnya...]

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Populasi Satwa Liar

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi...

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel Semua populasi mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang, tetapi juga menyusut jumlahnya hingga punah.... [Selanjutnya...]

Penyebaran Populasi Satwa

Penyebaran Populasi Satwa

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel A. Penyebaran Organisme atau kumpulan organisme tersebar di permukaan bumi sesuai kemampuan pergerakannya... [Selanjutnya...]

Perpindahan Populasi Satwa

Perpindahan Populasi Satwa

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel A. Tujuan, Faktor Penyebab dan Proses Perpindahan Perpindahan populasi pada satwa liar dikenal juga dengan... [Selanjutnya...]

Ukuran-ukuran Ekologis Populasi Flora

Ukuran-ukuran Ekologis Populasi Flora

Cara Mudah Membangun Usaha Tour & Travel Sejumlah ukuran-ukuran dasar penting yang digunakan untuk menggambarkan/ menjelaskan tentang populasi dan... [Selanjutnya...]

Jika Anda menyukai ideelok.com, maka tunjukkanlah apresiasi Anda dengan sedikit sumbangan melalui :

Terima kasih atas sumbangannya.